MAKALAH
ILMU SOSIAL DAN
BUDAYA DASAR
“MANUSIA SEBAGAI
MAKHLUK INDIVIDU DAN MAKHLUK SOSIAL”
Dosen Pengampu : - Drs.H,Firman Khaidir,M.Si
- Lola
Febriani,S.Pd,M.pd
Kelompok :
Enam (6)
Nama Anggota :
-
Chrisyanto Namora Aritonang ( RSA1C115028)
- Dhea
Aryesa (RSA1C115018)
- Tesa
Pratama Putrac ( RSA1C115014 )
- Nurliana (
RSA1C115017 )
PENDIDIKAN KIMIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
KATA
PENGANTAR
Puji
syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Atas rahmat dan hidayahnya
kami telah berhasil menyelesaikan makalah yang berjudul Manusia sebagai Makhluk
Individu dan Makhluk Sosial. Makalah ini disusun sebagai salah satu tugas mata
kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar .
Kami
mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu menyelesaikan
makalah ini secara langsung maupun tidak langsung sehingga makalah ini dapat
diselesaikan dengan sebaik-baiknya.
Kami
menyadari bahwa masih ada kekurangan dari Penulisan Makalah yang kami buat, maka
dari itu kritik dan saran kami butuhkan untuk memperbaiki makalah yang kamia
buat sehingga menjadi lebih baik. Semoga makalah ini bisa memberikan manfaat
bagi kami dan pembaca.
Jambi, Maret 2016
Penulis,
DAFTAR ISI
KATA PENGATAR .......................................................................................................... i
DAFTAR ISI ...................................................................................................................... ii
I.
PENDAHULUAN ...................................................................................................... 1
1.1
Latar Belakang....................................................................................................
1
1.2
Tujuan Penulisan ............................................................................................... 3
1.3
Metode Penulisan ............................................................................................... 3
II.
PEMBAHASAN ......................................................................................................... 4
2.1
Manusia sebagai makhluk individu dan
makhluk sosial ................................ 4
2.2
Karakteristik Manusia sebagai
Makhluk Individu dan Makhluk
Sosial .................................................................................................................... 6
2.3
Perbedaan antara masyarakat dan
komunitas ................................................ 8
2.4
Perubahan Sosial ............................................................................................... 9
2.5
Interaksi
Sosial dan Sosialisasi dalam Kehidupan Manusia sebagai Makhluk individu dan Makhluk
Sosial ................................................................................................... 10
2.6
Dilema
antara Kepentingan Individu dan Kepentingan Sosial ...................... 15
2.7
Perananan
manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial ............. 17
III.
PENUTUP ................................................................................................................. 19
3.1
KESIMPULAN
.................................................................................................. 19
3.2
SARAN ............................................................................................................... 19
DAFTAR PUSTAKA
........................................................................................................ 20
I .
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Ilmu budaya dasar adalah pengetahuan dasar tentang nilai nilai dasar manusia
(Basic Humanities) diantaranya meliputi cinta kasih, keindahan, penderitaan,
keadilan, pandangan hidup, tanggung jawab, kegelisahan, harapan, keyakinan,
pengabdian dan keyakinan yang digunakan untuk merespon dan menyelesaikan
masalah sosial budaya masyarakat.
Berbicara tentang manusia tidak akan pernah habis dan
selalu menarik, asumsi ini cukup rasional mengingat manusia sebagai ciptaan
yang unik dan dalam bahasa agama sering diungkap sebagai ciptaan yang sempurna.
Kesempurnaan itu bukan saja pada dimensi fisik dimana struktur tubuh dan
anatomi manusia, secara psikis manusia diberi kelebihan ruh dengan akal sebagai
given untuk hidup dan kehidupan manusia. Proses penciptaan manusia yang sempurna ini tentu sangat
berbeda dengan penciptaaan lain, seperti binatang. Keistimewaan yang dimiliki
manusia dengan beragam bentuk, warna kulit, karakterstik, minat, bakat dan lain
sebagiannya membawa kesadaran tentang keadilan sang pencipta yang telah
menciptakan sosok ciptaan yang sempurna.
Selain
kestimewaan di atas, mengapa dipandang perlu untuk membicarakan tentang dimensi
manusia dari berbagai sudut pandang yang berbeda, apakah selama ini timbul persoalan
mendasar mengapa terma manusia tidak akan habis dibicarakan sepanjang manusia
hidup dalam jagad raya ini. Selain itu apa hubungannya manusia dengan alam,
binatang dan bahkan sesame manusia itu sendiri. Ada beberapa persoalan mendasar
mengapa terma manusia selalu menjadi diskurses tanpa batas.
1. Bahwa
manusia dengan kestimewaan akal telah mampu menembus peradaban yang spektakuler
setelah melewati revolusi perdaban yang cukup lama. Kekuatan akal ini
melahirkan daya cipta (nilai-nilai ketuhanan) manusia dalam memenuhi
kebutuhannya. Berbagai masterpiece telah dilahirkan manusia melalui akalnya,
seperti penemuan telpon, listrik, pesawat, satelit, dan bahkan ruang angkasa.
Bisa dikatakan dengan daya citpa yang tanpa batas (baca: manusia), manusia
mampu menemukan problem-problem sosial yang harus dipecahkan dengan kekuatan
akal, sehingga terwujud kemanfaatan yang baik untuk masyarakat itu sendiri.
2. Keistimewaan
manusia dengan akalnya dan kemampuan daya ciptan yang luar biasa, ternyata
menimbulkan sebuah ketakutan tersendiri bagi diri manusia, yaitu ketika akal
berbicara dan mampu mencipta apakah selama itu manusia bebas dari nilai? Dan
tidak mengindahkan sisi kemanfaatan bagi umat manusia yang lain. Fakta ini
cukup rasional, melihat adanya kerusakan-kerusakan alam dan kekacaun manusia
itu sendiri. Ketika manusia pertama kali menemukan sebuah benda yang maha
kecil, yaitu atom itu merupakan penemuan yang spektakuler bagi manusia, akan
tetapi muncul kekuatiran, jika atom ini dijadikan senjata pemusnah, maka
habslah manusia. Sejarah berbicara banyak ketika atom dijadikan bahan peledak
dan menimbulkan banyak korban bagi manusian. Belum lagi ditemukannya nuklir
yang awalnya dimanfaatkan untuk kebutuhan tenaga listrik, ternyata dimanfaatkan
juga untuk pembuatan bom, bias dibayangkan dengan dayanya yang sangat besar,
makan kehancuran manusia dan bumi ini segera terjadi.
Manusia diciptakan oleh tuhan dengan
segala keterbatasannya, akan tetapi manusia dikaruniai akal pikiran yang dapat
digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Manusia tidak dapat hidup sendiri,
melainkan memerlukan bantuan orang lain, karena manusia merupakan makhluk
sosial yang bergantung akan manusia lainnya ketika dalam menjalankan kehidupan
pada suatu masyarakat.
Manusia
terbagi kedalam dua konteks, yaitu manusia sebagai makhluk individu dan manusia
sebagai makhluk sosial.Manusia sebagai individu mempunyai sifat social anima
dengan insting gregariousness, yaitu selalu ingin menyesuaikan dengan
sesama dan lingkungan sekitarnya. Manusia sebagai makhluk sosial dapat diurai
mulai dari kehadiran manusia tentang makna di balik ciptaan manusia pertama
Adam dan Hawa, kemudian manusia ditakdirkan sebagai makhluk sosial yang tidak
dapat hidup sendiri, manusia sebagai makhluk sosial terbentuk dalam kelompok
lingkungan pemukiman artinya manusia sebagai makhluk lingkungan yang tidak
mungkin dipisahkan dari lingkungan hidup tempat mereka bermukim, bahkan
masyarakat terbentuk karena menempati tetitorial yang sama
Pada
dasarnya manusia adalah sebagai makhluk individu yang unik, berbeda antara yang
satu dengan lainnya. Secara individu juga, manusia ingin memenuhi kebutuhannya
masing-masing, ingin merealisasikan diri atau ingin dan mampu mengembangkan
potensi-potensinya masing-masing. Hal ini merupakan gambaran bahwa setiap
individu akan berusaha untuk menemukan jati dirinya masing-masing, tidak ada
manusia yang ingin menjadi orang lain sehingga dia akan selalu sadar akan
keindividualitasannya.
Adapun
hubungannya dengan manusia sebagai mahluk sosial adalah bahwa dalam
mengembangkan potensi-potesinya ini tidak akan terjadi secara alamiah dengan
sendirinya, tetapi membutuhkan bantuan dan bimbingan manusia lain. Selain itu,
dalam kenyataannya, tidak ada manusia yang mampu hidup tanpa adanya bantuan
orang lain. Hal ini menunjukan bahwa manusia hidup saling ketergantungan dan
saling membutuhkan antara yang satu dengan lainnya.
Dari kedua
hal diatas, manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial memiliki fungsi
masing-masing dalam menjalankan peranannya dalam kehidupan. Sebagai makhluk
individu manusia merupakan bagian dan unit terkecil dari kehidupan sosial
atau masyarakat dan sebaliknya sebagai makhluk sosial yang membentuk suatu
kehidupan masyarakat, manusia merupakan kumpulan dari berbagai individu. Dalam
menjalankan peranannya masing-masing dari kedua hal tersebut secara seimbang,
maka setiap individu harus mengetahui dari peranannya masing-masing tersebut.
Untuk itu, perlu kiranya penulis menulis sebuah makalah yang mengemukakan manusia
sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Semoga dengan adanya makalah ini
dapat menginspirasi pembaca.
Sebagai
mahluk hidup yang berada di muka bumi ini keberadaan manusia adalah sebagai
mahluk individu dan mahluk sosial, dalam arti manusia senantiasa tergantung dan
atau berinteraksi dengan sesamanya. Dengan demikian, maka dalam kehidupan
lingkungan sosial manusia senantiasa terkait dengan interaksi antara individu
manusia, interaksi antar kelompok, kehidupan sosial manusia dengan lingkungan
hidup dan alam sekitarnya, berbagai proses sosial dan interaksi sosial, dan
berbagai hal yang timbul akibat aktivitas manusia seperti perubahan sosial.
Perkembangan
manusia secara perorangan pun melalui tahap-tahap yang memakan waktu puluhan
atau bahkan belasan tahun untuk menjadi dewasa. Upaya pendidikan dalam
menjadikan manusia semakin berkembang. Perkembangan keindividualan memungkinkan
seseorang untuk mengembangkan setiap potensi yang ada pada dirinya secara
optimal dan untuk memenuhi kebutuhannya.
Secara sosial
sebenarnya manusia merupakan mahluk individu dan makhluk sosial
yang mempunyai kesempatan yang sama dalam berbagai hidup dan kehidupan dalam
masyarakat. Artinya setiap individu manusia memiliki hak, kewajiban dan
kesempatan yang sama dalam menguasai sesuatu, misalnya bersekolah, melakukan
pekerjaan, bertanggung jawab dalam keluarga serta berbagai aktivitas ekonomi,
politik dan bahkan beragam.
1.2 Tujuan
penulisan
Tujuan penulisan ini adalah :
1. Memahami lebih jelas Tentang manusia
sebagai makhluk individu dan makhluk sosial.
2. Memahami karakteristik manusia
sebagai makhluk individu dan sosial.
3. Mengetahui perbedaan antara manusia
dan komunitas.
4. Memahami tentang perubahan sosial.
5. Interkasi
sosial dan sosialisasi dalam kehidupan manusia sebagai makhluk individu dan
makhluk sosial.
6. Dilema
antara kepentingan individu dan kepentingan sosial.
7. Peranan
manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial.
1.3 Metode
Penulisan
Metode
penulisan yang kami gunakan dalam penyusunan makalah ini adalah metode
penulisan studi pustaka . Kami mencari
bahan-bahan tentang manusia dan lingkungan lewat buku-buku, internet, berita online, koran dan materi yang berhubungan dengan manusia dan
lingkungan yang tersedia . Adapun
metode penulisan pengumpulan data yakni kami mengumpulkan informasi yang
tersusun dan memberikan kemungkinan akan adanya penarikan kesimpulan dan
pengambilan tindakan .
II.
PEMBAHASAN
2.1 Manusia
sebagai makhluk individu dan makhluk sosial
Manusia adalah makhluk yang selalu
berinteraksi dengan sesamanya. Manusia tidak dapat mencapai apa yang diinginkan
dengan dirinya sendiri. Karena manusia menjalankan peranannya dengan
menggunakan simbol untuk mengkomunikasikan pemikiran dan perasaanya. Manusia
tidak dapat menyadari individualitas, kecuali melalui medium kehidupan sosial.
Esensi
manusia sebagai makhluk sosial pada dasarnya adalah kesadaran manusia tentang
status dan posisi dirinya adalah kehidupan bersama, serta bagaimana
tanggungjawab dan kewajibannya di dalam kebersamaan
a. Manusia
Sebagai makhluk individu.
Individu
berasal dari kata in dan devided. Dalam Bahasa
Inggris in salah satunya mengandung pengertian tidak,
sedangkan devided artinya terbagi. Jadi individu artinya tidak
terbagi, atau satu kesatuan. Dalam bahasa latin individu berasal dari
kata individium yang berarti yang tak terbagi, jadi merupakan
suatu sebutan yang dapat dipakai untuk menyatakan suatu kesatuan yang paling
kecil dan tak terbatas.
Setiap manusia memiliki keunikan dan
ciri khas tersendiri, tidak ada manusia yang persis sama. Dari sekian banyak
manusia, ternyata masing-masing memiliki keunikan tersendiri. Seseorang
individu adalah perpaduan anatara factor genotip dan fenotip. Factor genotip
adalah factor yang dibawa individu sejak lahir, ia merupakan factor keturunan, dibawa
individu sejak lahir, sedangkan factor fenotip adalah factor lingkungan.
Manusia sebagai individu selalu
berada ditengah-tengah kelompok individu yang sekaligus mematangkannya untuk
menjadi pribadi yang prosesnya memerlukan lingkungan yang dapat membentuk
pribadinya. Namun, tidak semua lingkungan menjadi factor pendukung pembetukan
pribadi, tetapi ada kalanya menjadi penghambat proses pembentukan pribadi.
Manusia
sebagai makhluk individu memiliki unsur jasmani dan rohani, unsur fisik dan
psikis, unsur raga dan jiwa. Seseorang dikatakan sebagai manusia individu
manakala unsur-unsur tersebut menyatu dalam dirinya. Jika unsur tersebut sudah
tidak menyatu lagi maka seseorang tidak disebut sebagai individu. Dalam diri
individu ada unsur jasmani dan rohaninya, atau ada unsur fisik dan psikisnya,
atau ada unsur raga dan jiwanya.
Setiap
manusia memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri, tidak ada manusia yang sama
persis. Dari sekian banyak manusia, ternyata masing-masing memiliki keunikan
tersendiri. Seorang individu adalah perpaduan antara faktor fenotip dan
genotip. Faktor genotip adalah faktor yang dibawa individu sejak lahir, ia
merupakan faktor keturunan, dibawa individu sejak lahir. Kalau seseorang
individu memiliki ciri fisik atau karakter sifat yang dibawa sejak lahir, ia
juga memiliki ciri fisik dan karakter atau sifat yang dipengaruhi oleh faktor
lingkungan (faktor fenotip). Faktor lingkungan (fenotip) ikut berperan dalam
pembentukan karakteristik yang khas dari seseorang. Istilah lingkungan merujuk
pada lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Ligkungan fisik seperti kondisi
alam sekitarnya. Lingkungan sosial, merujuk pada lingkungan di mana eorang
individu melakukan interaksi sosial. Kita melakukan interaksi sosial dengan
anggota keluarga, dengan teman, dan kelompok sosial yang lebih besar.
Karakteristik
yang khas dari seeorang dapat kita sebut dengan kepribadian. Setiap orang
memiliki kepribadian yang berbeda-beda yang dipengaruhi oleh faktor bawaan
genotip)dan faktor lingkungan (fenotip) yang saling berinteraksi terus-menerus.
Menurut
Nursid Sumaatmadja (2000), kepribadian adalah keseluruhan perilaku individu
yang merupakan hasil interaksi antara potensi-potensi bio-psiko-fiskal (fisik
dan psikis) yang terbawa sejak lahir dengan rangkaian situasi lingkungan, yang
terungkap pada tindakan dan perbuatan serta reaksi mental psikologisnya, jika
mendapat rangsangan dari lingkungan. Dia menyimpulkan bahwa faktor lingkungan
(fenotip) ikut berperan dalam pembentukan karakteristik yang khas dari seeorang.
b. Manusia
Sebagai Makhluk sosial.
Menurut kodratnya manusia selain sebagai makhluk
individu, mereka juga merupakan makhluk sosial. Adapun yang dimaksud dengan
Istilah sosial adalah ”Sosial” berasal dari akar kata bahasa Latin Socius, yang
artinya berkawan atau masyarakat. Sosial memiliki arti umum yaitu
kemasyarakatan dan dalam arti sempit mendahulukan kepentingan bersama atau
masyarakat. Adapun dalam hal ini yang dimaksud manusia sebagai makhluk sosial
adalah makhluk yang hidup bermasyarakat, dan pada dasarnya setiap hidup
individu tidak dapat lepas dari manusia lain. Dalam hubungannya dengan manusia
sebagai makhluk sosial, manusia selalu hidup bersama dengan manusia lainnya.
Dorongan masyarakat yang dibina sejak lahir akan selalu menampakan dirinya dalam
berbagai bentuk, karena itu dengan sendirinya manusia akan selalu bermasyarakat
dalam kehidupannya.Seperti kita ketahui bahwa sejak bayi lahir sampa iusia
tertentu manusia adalah mahkluk yang tidak berdaya, tanpa bantuan orang orang
disekitar iatidak dapat berbuat apa-apa dan untuk segala kebutuhan hidup
bayi sangat tergantung pada luar dirinya sepert iorang tuanya khususnya ibunya.
Bagisi bayi keluarga merupakan segitiga abadi yang menjadi kelompok sosial
pertama dikenalnya. Pada perjalanan hidup yang selanjutnya keluarga akan
tetap menjadi kelompok pertama tempat meletakan dasakepribadian dan proses
pendewasaan yang didalamnya selalu terjadi “sosialisi” untuk menjadi
manusia yang mengetahui pengetahuan dasar, nilai-nilai, normasosial dan etika-etika
pergaulan.
Sejak zaman purba, sudah dapat
dilihat bahwa manusia mulai bersosialisasi. Sebagai bukti, para peneliti
purbakala seringkali menemukan simbol-simbol sosial atau gambaran mengenai
kerja sama komunal dalam lukisan-lukisan dinding yang banyak tersebar di
gua-gua di Negara-negara eropa.
Manusia
dapat di katakan makluk sosial karena pada dirinya terdapat dorongan untuk
berhubungan atau berinteraksi dengan orang lain, dimana terdapat kebutuhan
untuk mencari berteman dengan orang lain yang sering di dasari atas kesamaan
ciri atau kepentingan masing-masing. Manusia juga tidak akan bisa hidup sebagai
manusia kalau tidak hidup di tengah-tengah manusia. Tanpa bantuan manusia
lainnya, manusia tidak mungkin bisa berjalan dengan tegak. Dengan bantuan
orang lain, manusia bisa menggunakan tangan, bisa berkomunikasi atau bicara,
dan bisa mengembangkan seluruh potensi kemanusiaannya. Makhluk sosial adalah
makluk yang terdapat dalam beragam aktivitas dan lingkungan sosial.
Untuk mengembangkan dirinya, manusia
membutuhkan sosialisasi lebih lanjut. Agar kebutuhan aktualisasi diri tersebut
terpenuhi, manusia membutuhkan waktu yang sangat lama. Waktu ini kemudian
disebut dengan tahap pembelajaran atau tahap penyesuaian. Proses ini dapat kita
rasakan sendiri, namun sebagai contoh, kita dapat melihat bahwa untuk
mengembangkan teknologi yang tepat guna manusia membutuhkan waktu yang sangat
lama bahkan sejak fase manusia purba. Dari berbagai bukti peninggalan, dapat
ditemukan berbagai artefak yang di perkirakan memiliki fungsi yang sama dengan
alat-alat yang berkembangan saat ini.
Beberapa ilmu mengenai perkembangan
manusia dalam kekinian mulai berkembang. Beragam kajian tentang manusia sejak
masa purba sampai masa modern dikembangkan oleh beberapa ahli melalui pengamatan
sehingga memunculkan beberapa model sebagai pengetahuan atas perilaku manusia.
2.2
Karakteristik Manusia sebagai Makhluk Individu dan Makhluk Sosial
Manusia
sebagai makhluk individu memiliki unsur jasmani dan rohani, unsur fisik dan
psikis, unsur raga dan jiwa. Seseorang dikatakan sebagai manusia individu
manakala unsur-unsur tersebut menyatu dalam dirinya. Setiap manusia memiliki
keunikan dan ciri khas tersendiri, tidak ada manusia yang persis sama. Seorang
individu adalah perpaduan antara faktor fenotip dan genotip. Faktor genotip
adalah faktor yang dibawa individu sejak lahir, ia merupakan faktor keturunan,
dibawa individu sejak lahir. Faktor lingkungan (fenotip) ikut berperan dalam
pembentukan karakteristik yang khas dari seseorang. Istilah lingkungan merujuk
pada lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Lingkungan fisik seperti kondisi
alam sekitarnya. Lingkungan sosial, merujuk pada lingkungan di mana seorang
individu melakukan interaksi sosial dengan anggota keluarga, dengan teman, dan
kelompok sosial yang lebih besar.
Karakteristik yang khas dari
seeorang dapat kita sebut dengan kepribadian. Setiap orang memiliki kepribadian
yang berbeda-beda yang dipengaruhi oleh faktor bawaan genotip)dan faktor
lingkungan (fenotip) yang saling berinteraksi terus-menerus.
Dengan adanya individulitas, setiap orang memiliki kehendak, perasaan,
cita-cita, kecenderungan, semangat, daya
tahan yang berbeda. Kesanggupan untuk memikul tanggung jawab sendiri merupakan
ciri yang sangat essensial dari adanya individualitas pada diri setiap
insan.
Menurut
Oxendine, perbedaan individualitas setiap insan nampak secara khusus pada aspek sebagai berikut :
Perbedaaan fisik: usia, tingkat dan
berat badan, jenis kelamin, pendengaran, penglihatan dan kemampuan bertindak.
Perbedaan sosial: status ekonomi,
agama, hubungan keluarga dan suku.
Perbedaan kepribadian: watak, motif,
minat dan sikap.
Perbedaan kecakapan atau kepandaian.
Menurut
kodratnya manusia adalah makhluk sosial atau makhluk bermasyarakat, selain itu
juga diberikan yang berupa akal pikiran yang berkembang serta dapat
dikembangkan. Dalam hubungannya dengan manusia sebagai makhluk sosial, manusia
selalu hidup bersama dengan manusia lainnya.
Menurut Hassan Shadily dalam bukunya
Sosiologi untuk Masyarakat Indonesia, bahwa manusia akan tertarik kepada
hidup bersama dalam dalam masyarakat karena didorong oleh beberapa faktor:
1.
Hasrat yang berdasar naluri
(kehendak biologis yang di luar penguasaan akal) untuk mencari teman hidup,
pertama untuk memenuhi kebutuhan sesksual yang sifatnya biologis sebagaimana
terdapat pada semua makhluk hidup.
2.
Kelemahan manusia selalu mendesak
untuk mencari kekuatan bersama yang terdapat dalam berserikat dengan orang lain
sehingga dapat berlindung bersama-sama dan dapat memenuhi kebutuhan kehidupan
sehari-hari dengan usaha bersama.
Ciri-ciri
Manusia Sebagai Mahkluk Sosial:
Suka bergaul
Suka bekerja sama
Hidup berkelompok
Memiliki kepedulian terhadap orang
lain
Tidak bisa hidup sendiri
2.3 Perbedaan antara masyarakat dan komunitas
A. Masyarakat
Masyarakat yaitu sekumpulan orang yang,
terdiri dari berbagai kalangan, baik golongan mampu ataupun golongan tak
mampu, yang tinggal di dalam satu wilayah dan telah memiliki hukum adat,
norma-norma serta berbagai peraturan yang siap untuk ditaati.
Menurut
kamus besar bahasa Indonesia masyarakat sebagai kumpulan individu yang menjalin kehidupan bersama sebagai satu
kesatuan yang besar, saling membutuhkan dan memiliki ciri-ciri yang sama
sebagai kelompok.
Pengertian masyarakat menurut para
ahli
- Pengertian
masyarakat menurut Peter. L.Berger
adalah suatu bagian-bagian yang membentuk kesatuan hubungan antar manusia yang
bersifat luas.
- Marx berpendapat bahwa
pengertian masyarakat merupakan hubungan ekonomis dalam hal produksi atau
konsumsi yang berasal dari kekuatan-kekuatan produksi ekonomis seperti teknik
dan karya.
- Berbeda
dengan pendapat Harold. J.Laski, adalah kelompok manusia.yang
bekerjasama dan hidup demi mencapai terkabulnya keinginan mereka bersama
- Pengertian
masyarakat menurut Gillin, manusia
memiliki kebiasaan, tradisi, sikap serta perasaan sebagai satu unit yang diikat
oleh kesamaan.
Masyarakat dapat dikelompokan
berdasarkan ras, suku dan keturunannya selain itu masyarakat juga bisa
dibedakan menurut mata pencaharian di wilayahnya.Menurut para pakar, lewat
pekerjaannya masyarakat bisa dibagi menjadi masyarakat pemburu, masyarakat
agraris, masyarakat pastoral nomadis dan masyarakat peradaban. Yang dimaksud
dengan masyarakat peradaban adalah masyarakat yang dapat menyesuaikan diri supaya
mendapatkan kehidupan layak sesuai dengan lingkungan alamnya lalu menerapkan
hasil adaptasinya untuk kehidupan yang lebih maju.
B. Komunitas
Komunitas adalah kelompok sosial
yang berasal dari beberapa organisme yang saling berinteraksi di dalam daerah tertentu
dan saling bebagi lingkungan. Biasanya mempunyai ketertarikan dan habitat yang
sama. Definisi Komunitas yang lainya adalah sebuah kelompok yang menunjukkan
adanya kesamaan kriteria sosial sebagai ciri khas keanggotaannya, misalnya
seperti: kesamaan profesi, kesamaan tempat tinggal, kesamaan kegemaran dan lain
sebagainya. Seperti contohnya: kelompok petani, karyawan pabrik, kelompok
warga, kelompok suporter sepak bola dan lain sebagainya.
Tujuan
dibentuknya komunitas yaitu untuk dapat saling membantu satu sama lain dalam
menghasilkan sesuatu, sesuatu tersebut adalah tujuan yang telah di tentukan
sebelumnya.
Beberapa
pengertian komunitas menurut para ahli
- Menurut
Hendro Puspito – Kelompok sosial adalah suatu kumpulan nyata, teratur &
tetap dari individu-individu yang melaksanakan peran-perannya secara berkaitan
guna mencapai tujuan bersama.
- Lalu
menurut Soenarno (2002) – Komunitas adalah sebuah identifikasi & interaksi
sosial yang dibangun dengan berbagai dimensi kebutuhan fungsional.
- Dan
menurut Paul B. Horton & Chaster L. Hunt – Kelompok sosial adalah suatu
kumpulan manusia yang memiliki kesadaran akan keanggotaannya & saling
berinteraksi.
2.4 Perubahan Sosial
Masyarakat merupakan kelompok manusia yang menempati wilayah
tertentu yang terikat oleh nilai dan tidak selalu sama,perubahan bisa lambat
secara evolusi dan perubahan cepat revolusi.
Pada evolusi, perubahan terjadi dengan
sendirinya tanpa rencana atau kehendak tertentu.Perubahan terjadi karena
usaha-usaha masyarakat untuk menyesuaikan
diri dengan kebutuhan-kebutuhan,kondisi baru,yang timbul sejalan dengan
pertumbuhan masyarakat.
Sebaliknya perubahan secara revolusi
adalah perubahan yang terjadi lewat perencanaan atau juga tanpa
perencanaan.ukuran kecepaatan perubahan dalam revolusi sangat relatif,karena
ada revolusi yang memakan waktu lama dan ada yang memakan waktu relatif
cepat.Perubahan sosial ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor,yaitu faktor
dari dalam dan faktor dari luar.Faktor dari dalam terjadi apabila dalam
krlompok ditandai adanya penemuan-penemuan atau
penciptaan-penciptaan(inovasi).Inovasi akan terjadi apabila anggota-anggota
masyarakat memiliki:
1. Kesadaran akan perlunya meningkatkan
hidup secara terus-menerus.Kesadaran
tersebut akan timbul apabila ada rasa tidak puas terhadap apa yang telah
dicapainya,atau dengan kata lain adanya dorongan untuk mencapai prestasi yang
lebih baik.
tersebut akan timbul apabila ada rasa tidak puas terhadap apa yang telah
dicapainya,atau dengan kata lain adanya dorongan untuk mencapai prestasi yang
lebih baik.
2. Anggota masyarakat yang berkualitas
yaitu yang memiliki akal daya dan kreatif
yang tinggi.
yang tinggi.
3. Suasana persaingan yangb sehat
diantara anggota-anggota masyarakat untuk
mencapai prestasi yang tinggi demi kemajuan kelompoknya.
mencapai prestasi yang tinggi demi kemajuan kelompoknya.
4. Adanya dorongan kepada anggota yang
berprestasi baik agar mereka berprestasi
dan berkarya.
dan berkarya.
Pada umumnya terdapat dua faktor
yang mendasari terjadinya perubahan sosial,yaitu faktor yang bersumber dari
dalam masyarakat(intern)dan faktor-faktor dari luar masyarakat(ekstern).
Faktor intern atau yang bersumber
dari masyarakat itu sendiri, antara lain:
1. Perubahan jumlah
penduduk.Bertambahnya jumlah penduduk yang cepat menyebabkan terjadinya
perubahan struktur masyarakat terutama lembaga-lembaga kemasyarakatan.
2. Penemun baru.Penemuan baru oleh
anggota masyarakat yang kemudian diterima,dipelajari,dan akhirnya dipakai dalam
masyarakat yang bersangkutan akan menimbulkan perubahan sosial. maupun
kelompok,misalnya konflik antara generasi muda dengan generasi tua,tentang pergaulan,pakaian,sikap
dan sebagainya.
3. Penberontakan atau
revolusi.Pemberontakan yang dilakukan oleh warga masyarakat untuk melawan
pemimpin yang otoriter akan mengakibatkan perubahan sosial didalam kelompok
masyarakat.
Sedangkan faktor dari luar dapat
disebabkan oleh lingkungan fisik yang ada disekitar manusia,misalnya akibat
bencana alam:gempa bumi,banjir,tsunami,tanah longsor,lumpur lapindo,dsb.Karena
bencana alam banyak masyarakat yang terpaksa harus pindah tempat tinggal yang
lebih lama.Selain itu faktor pengaruh kebudayaan dari luar juga memberikan
dampak terhadap perubahan sosial.
2.5
Interaksi Sosial dan Sosialisasi dalam Kehidupan Manusia sebagai
Makhluk individu dan Makhluk Sosial
Manusia sebagai mahkluk sosial dalam kehidupan
sehari-harinya pasti membutuhkan orang lain. Proses interaksi dan sosialisasi
selalu terjadi kapan dan dimanapun manusia itu berada. Dalam hal ini bentuk
interaksi sosial sangat bermacam-macam.Pola sosialisasi pun ada
bermacam-macam.Untuk lebih jelasnya uraian mengenai interaksi sosial dan
sosialisasi adalah sebagai berikut.
a. Interaksi Sosial.
Manusia dikenal sebagai makhluk individu dan makhluk
sosial.Dikatakan makhluk sosial karena manusia sebagai individu saling
membutuhkan dan saling berinteraksi dengan manusia atau individu lainnya. Oleh
sebab itu manusia sebagai makhluk sosial sangat membutuhkan orang lain pada
hidupnya untuk saling memberi, menolong, dan melengkapi satu sama lain.
Adapun pengertian interaksi sosial menurut Effendi
(2010:46) adalah kata interaksi berasal dari kata inter dan action. Interaksi
sosial adalah hubungan timbal balik saling mempengaruhi antar individu,
kelompok social, dan masyarakat. Dalam hal ini berarti bahwa manusia dalam
kehidupan sehari-harinya tidak lepas dari hubungan dengan manusia
lainnya.Interaksi juga berarti bahwa setiap manusia saling berkomunikasi dan
mempengaruhi bisa dalam pikiran maupun tindakan.
Menurut Gillin dan Gillin (Effendi, 2010:46)
menyatakan bahwa interaksi sosia adalah hubungan-hubungan antara orang-orang
secara individu, antar kelompok, orang, dan orang perorangan dengan
kelompok.Dalam hal ini interaksisosial bisa dilakukan oleh orang perorangan,
bisa oleh kelompok, juga bisa perorangan dengan kelompok.
Interaksi sosial dimulai dari hal yang terkecil yaitu
saling menegur, menyapa, berjabat tangan, saling berbicara dan lain-lain.
Bahkan dalam pertengkaran atau perkelahianpun termasuk interaksi sosial.
Faktor yang pertama adalah imitasi, imitasi merupakan
proses peniruan. Kita sebagai makhluk sosial selalu membutuhkan orang lain
termasuk dalam hal meniru perilaku orang lain yang positif bagi kita. Peniruan
sudah dilakukan pada rentan anak usia dini. Anak usia dini merupakan peniru
yang ulung, maka dari itu sikap dan perilaku setiap orang dewasa perlu dijaga
dan diperhatikan agar peniruan yang dilakukan anak usia dini bersifat positif.
Pada proses peniruan ini mudah berubah-ubah karena perkembangan teknologi
didunia ini berlangsung secara global dan sangat cepat.
Yang kedua yaitu Sugesti, sugesti adalah suatu proses
dimana seorang individu menerima pendapat atau pandangan dari orang lain tanpa
adanya kritik terlebih dahulu. Sugesti merupakan pengaruh psikis yang datang
dari dirinya sendiri maupun orang lain. Orang akan mudah menerima sugesti dari
orang lain ketika seseorang sedang ada pada kondisi yang dilematis. Dalam
hubungan interaksi sosial, arti Imitasi dan sugesti hampir sama perbedaannya
adalah dalm imitasi seseorang mengikuti atau meniru orang lain, sedangkan pada
sugesti seseorang memberikan pandangan atau pendapat menurut dirinya dan
diterima oleh orang lain.
Yang ketiga yaitu Identifikasi, dalam psikologis
identifikasi berarti dorongan untuk menjadi identik atau dorongan untuk menjadi
sama dengan orang lain, baik secara lahir maupun batin.
Faktor yang keempat yaitu simpati, simpati yaitu
perasaaan yang timbul pada orang lain atas dasar penilaian menurut perasaan
didalam dirinya.
b. Bentuk Interaksi
Sosial
Ada beberapa
bentuk interaksi sosial yaitu:
Kerjasama (cooperation),
Persaingan (competition), dan
Pertentangan (conflict).
Menurut
Gillin dan Gillin bentuk kerjasama dibagi dalam dua proses yang didalamnya
terdapat bentuk bentuk khusus. Yang pertama yaitu proses Asosiatif terdiri dari
2 bentuk khusus yaitu akomodasi dan asimilasi. Yang kedua yaitu proses
Disosiatif, disosiatif terdiri dari tiga bentuk khusus yaitu Persaingan
(competition), Kontravnersi (contravention), dan Pertentangan (conflict).
1. Bentuk
Interaksi Asosiatif
a. Kerjasama
(cooperation)
Kerjasama merupakan salah satu bentuk interaksi
sosial yang sering terjadi dimasyarakat pada umumnya. Kerjasama menggambarkan
sebagian besar bentuk interaksi sosial. Dan setiap bentuk interaksi sosial
dapat ditemukan pada setiap kelompok manusia. Kerjasama timbul karena orientasi
orang perorangan terhadap kelompoknya atau kelompok yang lainnya.
Ada tiga
bentuk kerjasama yang biasa dilaksanakan yaitu:
Bargaining,
yaitu pelaksanaan kerjasama atau perjanjian antara dua organisasi atau lebih
mengenai pertukaran barang dan jasa.
Cooperation,
yaitu penerimaan unsur baru dalam kepemimpinan atau dalam pelaksanaan politik
dalam suatu organisasi, sebagai salah satu cara untuk menghindari kegoncangan
dalam stabilitas organisasi tersebut.
Coalition, yaitu
kombinasi antar dua organisasi atau lebih yang mempunyai pandangan dan tujuan
yang sama.
b. Akomodasi
(accomodation)
Dalam
interaksi sosial, istilah akomodasi berarti suatu kenyataan adanya keseimbangan
dalam interaksi orang perorangan dan kelompok manusia sehubungan dengan nilai
dan norma yang berlaku dimasyarakat.
Ada beberapa
bentuk akomodasi, diantaranya:
Coertion adalah bentuk akomodasi yang prosesnya dilaksanakan karena adanya
suatu paksaan.
Compromise adalah salah satu bentukakomodasi dimana pihak yang terlibat
perselisihan mengurangi tuntutannya agar tercapai suatu penyelesaian terhadap
perselisihan tersebut.
Arbitration adalah suatu cara untuk mencapai
compromise apabila pihak yang berselisih tidak sanggup untuk mencapainya
sendiri.
Mediation cara untuk mencapai penyelesaina dalam perselisihan dengan cara
menghadirkan orang ketiga yang netral dalam soal perselisihan yang ada.
Concilitation adalah usaha untuk mengabulkan atau mempertemukan keinginan
pihak yang berselisih agar tercapainya suatu persetujuan bersama.
Tolerantion adalah bentuk akomodasi tanpa persetujuan yang formal.
Contohnya toleransi dalam beribadah.
Stelemate adalah suatu akomodasi dimana pihak pihak yang berkepentingan
mempunyai yang seimbang, berhenti pada titik tertentu dalam melakukan
pertentangannya.
Adjudication adalah perselisihan perkara atau sengketa dipengadilan.
2. Bentuk Interaksi Disosiatif
1.
Persaingan (competition)
Persaingan merupakan bentuk interaksi sosial yang
dilakukan oleh individu atau kelompok untuk memperoleh keuntungan tertentu baik
bagi dirinya maupun kelompoknya dengan cara menarik perhatian atau mempertajam
prasangka yang telah ada tanpa menggunakan kekersan.
2. Kontravensi
(contravention)
Kontraversi adalah rperasaaan yang menggejolak yang
ada pada diri seseorang yag ditandai oleh adanya ketidakpastian dalam diri
seseorang, perasaan tidak suka yang disembunyikan dan kebencian terhadap orang
lain. Tapi gejala-gejala tersebut tidak sampai menimbulkan pertentangan atau
pertikaian.
3. Pertentangan
(conflict)
Pertentangan merupakan suatu bentuk interaksi individu
atau kelompok sosial yang berusaha utuk mencapai tujuannya dengan cara
menentang pihak yang lain atau pihak yang menghalangi dengan ancaman atau
tindak kekerasan.
c. Sosialisasi
Sosialisasi sangat erat kaitannya terhadap manusia
sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial kita harus senantiasa hidup
bersosial dengan orang lain agar dapat saling membantu, melengkapi, dan
mencapai tujuan hidup kita. Menurut Berger (Effendi, 2010:49) mendefinisika
sosialisasi sebagai “a process by which a child learns to be a participant
member of society” yaitu suatu proses dimana seorang anak belajar menjadi
seorang anggota yang berpartisipasi dalam masyarakat. Dalam hal ini jelas
dikatakan bahwa proses sosialisasi dimulai dari sejak anak usia dini hingga
usia seseorang berakhir. Proses sosialisasi terus dilakukan selama kita masih
hidup dan masih membutuhkan orang lain. Jadi dapat disimpulkan bahwa sosialisasi adalah proses
dimana seseorang dapat berinteraksi dan berpartisipasi dengan masyarakat yang
ada disekitarnya.
Setiap makhluk hidup pasti sangat membutuhkan proses
sosialisasi, baik itu dimulai dari anak usia dini sampai dewasa bahkan
sosialisasi berjalan seumur hidup.apa yang terjadi jika sejak usia dini anak
tidak mengalami sosialisasi ? pasti anak tidak akan menjadi manusia seutuhnya,
karenan kemampuan seseorang untuk berperan sebagai anggota masyarakat sangat
tergantung pada proses sosialisasi. Ketika seseorang tidak mengalami
sosialisasi maka yang terjadi adalah orang itu tidak dapat berinteraksi dengan
orang lain. Contohnya banyak ditemuakan anak anak yang terlantar dihutan dan
dibesarkan oleh hewan atau yang disekap oleh orang tuanya sejak kecil. Mereka
tidak bisa bersosialisasi dengan baik. Mereka cenderung bagaimana berprilaku
seperti hewan, mereka tidak dapat berbicara, tidak dapat berpakaian bahkan
tidak dapat tertawa atau menangis. Ketika anak-anak itu diselamatkan dan diberi
terapi seperti manusia umumnya, mereka mungkin bisa menerima sedikit demi
sedikit perubahan pada diri mereka untuk menjadi manusia seutuhnya namun
kemampuan mereka tidak akan mampu menyamai kemampuan anak lain yang sebaya
dengannya, karena kemampuan kemampuan tertentu hanya dapat diajarkan pada
periode tertentu dikehidupan anak. Bila proses sosialisasinya terlambat, maka
proses tersebut tidak akan berhasil atau hanya berhasil untuk sebagian kecil
saja. Mereka juga tidak akan menjadi manusia seutuhnya karena mereka tidak
pernah tersosialisasi secara wajar dan mereka cenderung meninggal dengan usia
muda.
Sosialisasi dilakukan oleh semua individu yang
bersosial. Ada beberapa pihak yang membantu melaksanakan sosialisasi yaitu
keluarga, kelompok bermain media massa dan sistem pendidikan. Peran agen utama
yaitu orangtua merupakan peran penting bagi anak untuk bersosialisasi. Orang
tua merupaka awal dimana kita melakukan interaksi dengan dunia pertama kita.
Keluarga merupakan pendidik yang pertama dan yang paling utama dalam hal
pertumbuhan dan perkembangan anak begitupun dengan perkembangan sosialisasi
mereka. Maka orang tua hendaknya mengoptimalkan proses sosialisasi pertama
untuk anak. Kelompok bermain juga tidak kalah pentingnya dengan orang tua.
Melalui kelompok bermain anak mulai bisa belajar bersosialisasi secara umum.
Bagaimana ia berinteraksi dengan teman sebayanya, bagaimana ia menyelesaikan
suatu permasalahan dalam berinteraksi dengan temannya dan juga bagaimana ia
bisa memilih teman yang sejalan dengannya. Agen yang ketiga yaitu media massa.
Media masa sangat erat kaitannya dengan teknologi yang makin maju dan
berkembang. Media masa pun sangat penting untuk sosialisasi dengan hal-hal yang
terjadi disekitar kita.
d. Bentuk dan Pola Sosialisasi
b. Bentuk-bentuk
sosialisasi
sosialisasi
merupakan salah satu bentuk manusia dalam mempertahankan interaksi dengan
lingkungannya. Proses ini berlangsung sepanjang hidup manusia.
Bentuk
sosialisasi dibedakan menjadi dua yaitu sosialisasi primer dan sekunder.
Sosialisasi primer adalah sosialisasi pertama yang dilakukan oleh seluruh
individu sejak ia kecil. Sosialisasi primer tidak ada proses identifikasi dan
pada masa inilah dumia pertama anak terbentuk. Sosialisasi primer berakhir
ketika konsep tentang orang lain pada umumnya telah terbentuk dan tertanam
dalam kesadaran individu. Pada titik ini ia merupakan anggaota efektif
masyarakat.
a. Pola
sosialisasi
Pada dasarnya ada dua pola sosialisasi, yaitu pola
represi (kekerasan/hukuman) dan pola partisipasi. Sosialisasi menggunakan pola
represi menekankan pada penggunaan hukuman atau kekerasan apabila terdapat dan
melakukan kesalahan. Adapun ciri-ciri lain dalam penggunaan proses represi
yaitu penggunaan materi dalam hukuman dan imbalan, penekanan terhadap orang
tua, penekanan terhadap komunikasi satu arah non verbal dan berisi perintah,
sosialisasi terhadap orang tua dan keinginan orangtua dan lain-lain.
Sosialisasi secara partisipasi merupakan pola yang
didalamnya anak diberi imbalan ketika ia berlaku baik , hukuman dan imbalan
berupa simbol, anak diberi kebebasan, komunikasi bersifat lisan, anak menjadi
pusat sosialisasi, kebutuhan dianggap sangat penting dan lain sebagainya.
2.6 Dilema
antara Kepentingan Individu dan Kepentingan Sosial
Manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial
selalu terdiri dari dua kepentingan, yaitu ke pentingan individu yang termasuk
kepentingan keluarga, kelompok atau golongan dan kepentingan masyarakat yang
termasukke pentingan rakyat . Dalam diri manusia, kedua kepentingan itu satu
sama lain tidak dapat dipisahkan. Apabila salah satu kepentingan tersebut
hilang dari diri manusia, akan terdapat satu manusia yang tidak bisa membedakan
suatu kepentingan, jika kepentingan individu yang hilang dia menjadi lupa pada
keluarganya, jika kepentingan masyarakat yang dihilangkan dari diri manusia
banyak timbul masalah kemasyarakatan contohnya korupsi. Inilah yang menyebabkan
kebingungan atau dilema manusia jika mereka tidak bisa membagi kepentingan
individu dan kepentingan masyarakat.Persoalan pengutamaan kepentingan individu
atau masyarakat ini memunculkan dua pandangan yang berkembang menjadi
paham/aliran bahkan ideologi yang dipegang oleh suatu kelompok masyarakat.
Adapun Ariska mengemukakan dua pandangan yaitu pandangan individualisme
dan pandangan sosialisme. Untuk mengetahui lebih lanjut, berikut kami sajikan
uraian berikut.
a. Pandangan Individualisme
Individualisme berpangkal dari konsep bahwa manusia
pada hakikatnya adalah makhluk individu yang bebas. Paham ini memandang manusia
sebagai makhluk pribadi yang utuh dan lengkap terlepas dari manusia yang lain.
Pandangan individualisme berpendapat bahwa kepentingan individulah yang harus
diutamakan. Yang menjadi sentral individualisme adalah kebebasan seorang individu
untuk merealisasikan dirinya. Paham individualisme menghasilkan ideologi
liberalisme. Paham ini bisa disebut juga ideologi individualisme liberal.
Paham individualisme liberal muncul di Eropa Barat
(bersama paham sosialisme) pada abad ke 18-19. Yang dipelopori oleh Jeremy
Betham, John Stuart Mill, Thomas Hobben, John Locke, Rousseau, dan Montesquieu.
Beberapa prinsip yang dikembangkan ideologi liberalisme adalah sebagai berikut:
a. Penjaminan
hak milik perorangan. Menurut paham ini, pemilikan sepenuhnya berada pada
pribadi dan tidak berlaku hak milik berfungsi sosial, Mementingkan diri sendiri
atau kepentingan individu yang bersangkutan.
b. Pemberian
kebebasan penuh pada individu. Persaingan bebas untuk mencapai kepentingannya
masing-masing.Kebebasan dalam rangka pemenuhan kebutuhan diri bisa menimbulkan
persaingan dan dinamika kebebasan antar individu. Menurut paham liberalisme,
kebebasan antar individu tersebut bisa diatur melalui penerapan hukum. Jadi,
negara yang menjamin keadilan dan kepastian hukum mutlak diperlukan dalam
rangka mengelola kebebasan agar tetap menciptakan tertibnya penyelenggaraan
hidup bersama.
b. Pandangan Sosialisme
Paham sosialisme ditokohi oleh Robert Owen dari
Inggris (1771-1858), Lousi Blanc, dan Proudhon. Pandangan ini menyatakan bahwa
kepentingan masyarakatlah yang diutamakan. Kedudukan individu hanyalah objek
dari masyarakat. Menurut pandangan sosialis, hak-hak individu sebagai hak dasar
hilang. Hak-hak individu timbul karena keanggotaannya dalam suatu komunitas
atau kelompok.
Sosialisme adalah paham yang mengharapkan terbentuknya
masyarakat yang adil, selaras, bebas, dan sejahtera bebas dari penguasaan
individu atas hak milik dan alat-alat produksi. Sosialisme muncul dengan maksud
kepentingan masyarakat secara keseluruhan terutama yang tersisih oleh system
liberalisme, mendapat keadilan, kebebasan, dan kesejahteraan. Untuk meraih hal
tersebut, sosialisme berpandangan bahwa hak-hak individu harus diletakkan dalam
kerangka kepentingan masyarakat yang lebih luas. Dalam sosialisme yang
radikal/ekstem (marxisme/komunisme) cara untuk meraih hal itu adalah dengan
menghilangkan hak pemilikan dan penguasaan alat-alat produksi oleh perorangan.
Paham marxisme/komunisme dipelopori oleh Karl Marx (1818-1883).
Paham individualisme liberal dan sosialisme saling
bertolak belakang dalam memandang hakikat manusia. Dalam Declaration of
Independent Amerika Serikat 1776, orientasinya lebih ditekankan pada hakikat
manusia sebagai makhluk individu yang bebas merdeka, manusia adalah pribadi
yang memiliki harkat dan martabat yang luhur. Sedangkan dalam Manifesto
Komunisme Karl Marx dan Engels, orientasinya sangat menekankan pada hakikat
manusia sebagai makhluk sosial semata. Menurut paham ini manusia sebagai
makhluk pribadi yang tidak dihargai. Pribadi dikorbankan untuk kepentingan
negara.
Dari kedua paham tersebut terdapat kelemahannya
masing-masing. Individualisme liberal dapat menimbulkan ketidakadilan, berbagai
bentuk tindakan tidak manusiawi, imperialisme, dan kolonialisme, liberalisme
mungkin membawa manfaat bagi kehidupan politik, tetapi tidak dalam lapangan
ekonomi dan sosial. Sosialisme dalam bentuk yang ekstrem, tidak
menghargai manusia sebagai pribadi sehingga bisa merendahkan sisi kemanusiaan.
Dalam negara komunis mungkin terjadi kemakmuran, tetapi kepuasan rohani manusia
belum tentu terjamin.
Negara indonesia yang berfilsafahkan pancasila,
hakikat manusia dipandang memiliki sifat pribadi sekaligus sosial secara
seimbang. Menurut filsafat pancasila, manusia adalah makhluk individu sekaligus
makhluk sosial, yang secara hakikat bahwa kedudukan manusia sebagai makhluk
individu sekaligus makhluk sosial. Bangsa indonesia memiliki prinsip penempatan
kepentingan bersama diatas kepentingan pribadi dan golongan. Demi kepentingan
bersama tidak dengan mengorbankan hak-hak dasar setiap warga negara.
2.7 Perananan manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial
1. Peranan manusia sebagai makhluk
individu
Berdasarkan sifat kodrat manusia sebagai individu,yang
dapat diketahui bahwa manusia memilki harhat dan martabat yang mempunyai
hak-hak dasar,dimana setiap manusia memiliki potensi diri yang khas,dan setiap manusia memiliki
kepentingan untuk memenuhi kebutuhan dirinya.
Sebagai makhluk individu manusai berperan untuk mewujudkan
hal-hal sebagai berikut:
1. Menjaga dan mempertahankan harkat dan martabatnya.
2. Mengupaya terpenuhinya hak-hak dasarnya sebagai manusia.
3. Merealisasikan segenap potensi diri baik sisi jasmani maupun rohani.
4. Memenuhi kebutuhan dan kepentingan diri demi kesejahteraan hidupnya.
2. Peranan manusia
sebagai makhluk sosial.
Manusia sebagai pribadi adalah berhakikat social.Artinys
akan senantiasa dan selalu
berhubungan dengan orang lain. Sebagai makhluk social manusia terhadap
norma-norma social yang tumbuh sebagai patokan dalam bertingkah laku manusia
dalam kelompok,norma-norma yang dimaksud adalah sebagai berikut :
1. Norma agama
atau religi,yaitu norma yang bersumber dari Tuhan untuk umat-Nya.
2. Norma
kesusilaan atau moral,yaitu yang bersumber dari hati nurani manusia untuk.
mengajakan
kebaikan dan menjahui keburukan.
3. Norma Kesopanan
atau adat,yaitu yang bersumber dari masyarakat atau dari lingkungan
masyarakat yang
bersangkutan.
4. Norma
hukum,yaitu norma yang dibuat masyarakat secara resmi yang pemerlakuannya
dapat dipaksa.
Berdasarkan hal diatas.maka manusia sebagai makhluk
social memiliki implikasip-implikasi sebagai berikut :
1. Kesadaran akan
ketidakberdayaan bila manusia seorang diri.
2. Kesadaran untuk
senatiasa dan harus berinteraksi dengan orang lain.
3. Penghargaan
akan hak-hak orang lain.
4. Ketaatan
terhadap norma-norma yang berlaku.
Keberadaan manusia sebagai makhluk social menjadiakan
manusia melakukan peran-peran sebagai berikut :
1. Melakukan
interaksi dengan manusia lain atau kelompok.
2. Membentuk
kelompok-kelompok sosial.
3. Menciptakan
norma-norma social sebagai pengaturan tata tertib kehidupan kelompok.
III. PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Manusia
sebagai mahluk individu artinya manusia merupakan satu kesatuan antara jasmani
dan rohani. Seseorang dikatakan sebagai individu apabila kedua unsur tersebut
menyatu dalam dirinya.
2. Selain
sebagai makhluk individu juga, manusia adalah makhluk sosial. Salah satunya
dikarenakan pada diri manusia ada dorongan untuk berhubungan atau berinteraksi
dengan orang lain yang satu sama lain saling membutuhkan. Untuk menjadi pribadi
yang bermakhluk sosial setiap individu dihadapkan dengan sosialisasi, yaitu
suatu proses dimana seseorang belajar menjadi seorang anggota yang
berpartisipasi dalam masyarakat.
3. Adapun yang
dimaksud masyarakat setempat atau komunitas berbeda dengan masyarakat.
Masyarakat sifatnya lebih umum dan lebih luas, sedang masyarakat setempat lebih
terbatas dan juga dibatasi oleh kawasan tertentu. Namun ditinjau dari aktivitas
hubungannya dan persatuannya lebih erat pada masyarakat setempat dibandingkan
dengan masyrakat.
4. Manusia
sebagai makhluk individu dan makhluk sosial selalu dihadapkan oleh dua
kepentingan yaitu kepentingan individu dan sosial. Persoalan pengutamaan
kepentingan individu atau masyarakat ini memunculkan dua pandangan yang
berkembang yaitu pandangan individualisme dan pandangan sosialisme. Sebetulnya
kedua kepentingan tersebut tidak dapat dipisahkan dan bukanlah pilihan.
3.2 Saran
Sejalan dengan kesimpulan diatas,
penulis merumuskan saran sebagai berikut.
1. Setiap
individu hendaknya sadar bahwa mereka adalah sebagai makhluk individu dan
makhluk sosial, sehingga mereka mampu menghargai satu sama lain dalam arti
tidak mengambil hak orang lain ketika bertindak sebagai makhluk sosial dan
sebaliknya.
2.
Dalam upaya pendidikan hendaknya para pendidik harus
menghormati keindividualitasan, karakteristik, keunikan dan kepribadian anak.
pendidikan tidak boleh memaksa anak untuk mengikuti dan menuruti segala
kehendaknya, karena dalam diri anak ada suatu prinsip pembentukan dan
pengembangan yang ditentukan oleh dirinya sendiri.
3.
Pembentukan proses sosialisasi pada anak dalam
interaksi sosial hendaknya harus didukung oleh semua pihak. Keluarga, lingkungan
masyarakat juga tenaga pendidik harus membantu menstimulasinya.
4. Kesempatan
berinteraksi akan sangat dibutuhkan oleh anak dalam bersosialisasi dengan orang
lain. Hendaknya kita sebagai calon guru dan calon ibu harus sadar bahwa
pemberitahuan, pemberian contoh dan pembiasaan sangat penting dan dibutuhkan
dalam bersosialisasi dengan orang lain dimasyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Effendi, Ridwan Drs, M.Ed. Dra.
Elly M. Setiadi, Msi, 2006 Pendidikan Lingkungan Sosial
Budaya dan Teknologi (PLSBT). Bandung : UPI PRESS
Budaya dan Teknologi (PLSBT). Bandung : UPI PRESS
Hans. J Daeng. (2006). Manusia
Kebudayaan dan Lingkungan. Jakarta : PT Pustaka Pelajar.
Kirana.2014. ISBD- Karakteristik manusia sebagai
Makhluk Individu dan Makhluk Sosia.
http://itikakirana.blogspot.co.id/2014/05/isbd-karakteristik-manusia-
sebagai.html [diakses 10 april 2016 , pukul 21 : 27 WIB]
http://itikakirana.blogspot.co.id/2014/05/isbd-karakteristik-manusia-
sebagai.html [diakses 10 april 2016 , pukul 21 : 27 WIB]
Ridwan Effendi, dkk. (2007).
Pendidikan Lingkungan Sosial Budaya Dan Teknologi.
Bandung : Yasindo Multi Aspek.
Bandung : Yasindo Multi Aspek.
Tim Dosen ISBD. 2014. Ilmu Sosial & Budaya
Dasar. Medan : Unimed Press
Tim Sosiologi. 2007. Sosiologi : Suatu Kajian
Kehidupan Masyarakat. Jakarta : Ghalia Indonesia.
Wicaksono, Angga Putra. 2007. Kamus Bahasa
Indonesia Lengkap. Surabaya : Anugerah
Yaqin.
M. Ainul. 2007. Pendidikan Multikultural. Yogyakarta: Pilar Media.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar